Sunday, May 12, 2013

Percobaan X Keanekaragaman Jenis Dalam Komunitas


BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

            Keanekaragaman jenis merupakan karakteristik tingkatan dalam komunitas berdasarkan organisasi biologisnya, yang dapat digunakan untuk menyatakan struktur komunitasnya. Suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman yang tinggi jika komunitas tersebut disusun oleh banyak spesies (jenis) dengan kelimpahan spesies sama  dan hampir sama. Sebaliknya jika suatu komunitas disusun oleh sedikit spesies dan jika hanya sedikit spesies yang dominan maka keanekaragaman jenisnya rendah (Umar, 2013).
            Pada penelitian keanekaragaman hayati ini menampilkan daftar jenis dan informasi lainnya, misalnya jumlah individu, fungsi, dan habitat tempat hidupnya. Dipilih cara mengukur keanekaragaman dengan menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon (Indeks Keanekaragaman Shannon- Wienner) memakai jumlah jenis, kelimpahan atau jumlah individu setiap jenis, dan menggabungkan keduanya. Nilai keanekaragaman bervariasi, semakin tinggi nilainya berarti keanekaragaman jenis semakin tinggi. Sebaran keanekaragaman (evenness) merupakan perbandingan antara nilai keanekaragaman yang diperoleh dengan nilai keanekaragaman maksimum (Erawati dan Sih, 2010).

I.2 Tujuan Percobaan

            Tujuan dari dilaksanakan praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.    Untuk mengetahui dan menentukan keanekaragaman jenis suatu komunita dengan berdasarkan pada Indeks Simpson dan Shannon-Wiener.
2.    Melatih keterampilan mahasiswa dalam menerapkan teknik-teknik sampling organisme dan rumus-rumus sederhana dalam menghitung keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas.

I.3. Waktu dan Tempat Percobaan

            Percobaan ini dilaksanakan pada hari Kamis, 18 April 2013 dari pukul 14.00-16.00 WITA. Pengamatan di lapangan dilaksanakan pada pukul 14.30 WITA yang bertempat di belakang Omega dan di Laboratorium dilaksanakan pada pukul 15.30 WITA, bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.
















BAB  II

TINJAUAN PUSTAKA

            Tidak ada individu dalam suatu populasi yang persis sama.  Perbedaan  morfologis di antara individi-individu Dri populasi yang sama disebabkan oleh rias genetiknya maupun oelh keragaman dalam berbagai faktor lingkungan. Sifat dan tingkat keragaman ini mencirikan fenotip dari keseluruhan populasi. Karena individu-individu suatu populasi saling membiak secara bebas di antara mereka sendiri, mereka memakai bersama kutub genetik yang sama memiliki sejumlah gen yang umum. Ini menghasilkan kemiripan yang besar dibandingkan keragaman. Meskipun habitat mikro yang dihuni oleh anggota-anggota suatu populai berbeda satu sama lain, dalam daerah tertentu mereka mirip. Dengan demikian, keragaman yang dihasilkan dalam morfologi mereka berkisar pada kenampakan utama yang umum. Sifat dan tingkat keragaman adalah khas untuk suatu ineraksi populasi-habitat. Keragaman yang demikian tidak hanya dicerminkan dalam morfologi individu-individu, namun juga dalam fisiologi garis besar, alur-alur metabolic, komposisi biokimia, dan perilaku (Michael, 1999).
            Jumlah jenis dalam komunitas disebut kekayaan jenis (species richness) dan tidak cukup untuk mempertelakan keanekaragaman. Sama pentingnya adalah kelimpahan relatif (relatif abundance) dari masing-masing populasi. Keanekaragman lebih besar; yaitu jika populasi-populasi itu sama satu sama lain dalam kelimpahannya, dan bukan beberapa sangat umum sedangkan yang lain sangat jarang. Jika individu-individu itu sangat bervariasi ukurannya, suatu ukuran tentang kepentingan relatif (relative importance) adalah lebih baik, seperti proporsi penutupan bagi tumbuhan terna, luas  bidang dasar (basal area)   bagi
pepohonan, atau biomassa pada sebarang organisme (Deshmukh, 1986).
            Dalam komunitas alami biasanya ada beberapa jenis yang melimpah dan banyak jenis yang jarang, walaupun polanya yang tepat berbeda bila komunitas-komunitas itu dibandingkan, tetapi teori-teori ini  lebih baik  dianggap sebagai deskriptif sampai dasar biologinya lebih dipahami lagi. Yang menarik adalah perbedaan tajam antara hutan tropika memperlihatkan  ekuitabilitas dan kekayaan jenis yang besar (Deshmukh, 1986).
            Komunitas yang tidak berubah untuk masa yang lama dikatakan sebagai komunitas stabil. Pada suatu saat banyak ekologiawan percaya bahwa komunitas yang paling kompleks dan paling keanekaragaman adalah yang paling stabil. Walaupun tak ada korelasi yang sesederhana itu, pengertian it uterus dipertahankan. Kebanyakan perdebatan tentang hubungan antara keanekaragaman dan stabilitas berpangkal pada banyaknya pemakain istilah  “stabilitas”, yang beberapa diantaranya bertolak belakang (Deshmukh, 1986).
            Berbagai populasi secara genetika terisolasi satu sama lain, maka komunitas yang kompleks merupakan  kumpulan yang jauh lebih longgar daripada poopulasi. Meskipun demikian, ada sifat-sifat komunitas yang dapat diukur dan dibandingkan. Salah satu ciri yang menarik adalah keanekaragaman jenis, yang meningkat dengan jelas jika kita bergerak ke arah  equator. Suatu penelaahan secara kritis terhadap bukti-bukti menunjukkan bahwa tipe dan skala waktu dari gangguan, lamanya asosiasi antarjenis, heterogenitas ruang dalam lingkungan, dan ruang relung total yang lebih besar mendorong keanekaragaman di daerah tropika. Namun, keumuman faktor-faktor ini (dan kemungkinan pentingnya faktor-faktor lain) sangatlah sulit untuk dinilai secara tegas. Yang terutama   sulit   untuk   diterangkan   secara kuantitatif  adalah  keanekaragaman
pohon-pohon di hutan hujan tropika (Deshmukh, 1986).
            Analisis komunitas tumbuhan merupakan suatu cara mempelajari susunan atau komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi. Tujuan yang ingin dicapai dalam analisis komunitas adalah unutk mengetahui komposisi spesies dan struktur komunitas pada suatu wilayah yang dipelajari. Bentuk pertumbuhan adalah penggolongan tetumbuhan menurut bentuk pertumbuhannya, habitat, atau menurut karakteristik lainnya. Bentuk pertumbuhan yang umum dan mudah disebut misalnya pohon, semak, perdu, herba, dan liana. Bentuk pertumbuhan dikelompokkan menjadi lima (Indriyanto, 2010) antara lain sebagai berikut:

1)        Phanerophytes, golongan tetumbuhan berkayu dan pohon yang tingginya lebih dari 30 cm.

2)        Chamaephytes, tetumbuhan berkayu dan semak kecil yang tingginya kurang dari 30 cm.

3)        Hemicryptophytes, tetumbuhan golongan rerumputan dan herba.

4)        Cryptophytes, tetumbuhan yang sebagian besar organ pertumbuhan berada di bawah permukaan tanah atau air.

5)        Therophytes, tetumbuhan yang tidak mempunyai organ pertumbuhan khusus. Golongan tumbuhan tersebut pada umumnya herba setahun.

            Indeks dominansi  (index of dominance) adalah parameter yang menyatakan tingkat terpusatnya dominansi (penguasaan) spesies dalam suatu komunitas. Keanekaragaman  spesies merupakan cirri tingkatan komunitas berdasarkan organisasi biologinya. Keanekaragaman spesies dapat digunakan untuk menyatakan struktur komunitas dan mengukur stabilitas komunitas, yaitu kemampuan suatu komunitas untuk menjaga dirinya tetap stabil meskipun ada gangguan terhadap komponen-komponennya (Soegianto, 1994).
            Keanekaragamn spesies yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas tinggi karena interaksi spesies yang terjadi dalam komunitas itu sangat tinggi. Suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman yang tinggi jika disusun oleh oleh banyak spesies. Sebaliknya suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman spesies yang rendah jika komunitas itu disusun oleh sedikit spesies dan jika hanya ada sedikit saja yang dominan (Indriyanto, 2010).
            Semua pohon dengan garis tengah 10 cm atau lebih pada bagian tengahnya, harus dianggap sebagai kanopi. Menghitung indeks keragaman shanon-Weiner bagi setiap stratum dengan menggunakan rumus keragaman (Michael, 1999) adalah sebagai berikut:
Keragaman = -  
di mana Pi=
                 In adalah logaritma dengan dasar e.
            Spesies yang berbeda dapat diberi nomor penciri saja (misalnya Spesies 1, Spesies 2, dan sebagainya), dan tidak diperlukan pencirian yang spesifik.
            Untuk memperkirakan keanekaragaman spesies ada beberapa indeks keanekaragaman yang dapat dipilih untuk dipakai dalam analisis komunitas, antara lain indeks Simpson atau Simpson of diversity (D) (Indriyanto, 2010).
D = I - 2
            Dimana D = indeks Simpson = indeks keanekaragaman Simpson
                        P-i = Proporsi spesies ke-I dalam komunitas
                          s  = jumlah spesies
            Metode petak merupakan prosedur merupakan prosedur yang paling umum digunakan untuk pengambilan contoh berbagai tipe organisme termasuk komunitas tumbuhan. Petak yang digunakan dapat berbentuk segi empat, persegi, atau lingkaran. Di samping itu, untuk kepentingan analisis komunitas tumbuhan dapat digunakan petak tunggal atau petak ganda. Metode jalur merupakan metode yang paling efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut kondisi tanah, topografi, elevasi. Jalur-jalur contoh dibuat memotong garis kontur (garis tinggi/garis topografi) dan sejajar satu dengan yang lainnya. Sedangkan metode garis berpetak dianggap sebagai modifikasi dari metode petak ganda atau metode jalur, yaitu dengan cara melompati satu atau lebih petak-petak dalam jalur, sehingga sepanjang garis rintis terdapat petak-petak pada jarak tertentu yang sama. Untuk metode kombinasi yang dimaksudkan adalah kombinasi antara metode jalur dan garis berpetak (Indriyanto, 2010).














BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat
            Alat-alat  yang digunakan dalam percobaan ini adalah Meteran, tali rapiah, patok ukuran 1 m.
III.2 Bahan
            Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Areal yang akan diamati (tumbuhan).
III.3 Cara Kerja
            Adapun cara kerja dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.    Dipilih suatu areal yang akan diduga tingkat keanekaragamannya.
2.    Dibuat garis panjang dengan menggunakan tali rapiah sejauh 30 meter.
3.    Tiap-tiap jarak 10 meter dibuat petak sampel ukuran 10x10 meter dengan patokan pada jarak utama.
4.    Dibuat lagi petak sampel di dalam petak sampel sebelumnya (10x10 meter) dengan ukuran 5x5 meter.
5.    Dibuat lagi petak sampel di dalam petak sampel sebelumnya dengan ukuran 1x1 meter.
6.    Diulang kembali langkah 3-5 pada jarak 10 meter selanjutnya, sehingga menghasilkan 3 petak sampel pada garis panjang 30 meter.
7.    lakukan pengamatan spesies-spesies yang ada pada masing-masing petak sampel (petak 1x1 meter: rerumputan, petak 5x5 meter: tumbuhan semak, dan 10x10 meter: pepohonan.)

DAFTAR PUSTAKA
Deshmukh, Lan, 1986. Ekologi dan Biologi Tropika. Blackwell Scientific   Publications Limited, Oxford.

Erawati, Nety V., dan Sih Kahono (2010). “J. Entomol. Indon” Keanekaragaman             Dan Kelimpahan Belalang Dan Kerabatnya (Orthoptera) Pada Ekosistem                      Pegunungan Di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. September        2010, Vol. 7, No. 2. Hal: 100-115.

Indriyanto, 2010. Ekologi Hutan. Bumi Aksara, Jakarta.

Michael, P., 1999. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang Dan            Laboratorium. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Soegianto, A., 1994. Ekologi Kuantitatif:Metode Analisis Populasi dan        Komunitas. Penerbit Usaha Nasional, Jakarta.

Umar, Muhammad Ruslan, 2013. Ekologi Umum Dalam Praktikum. Jurusan          Biologi. Universitas Hasanuddin, Makassar.


1 comment:

Semoga bermanfaat...Silahkan komentarnya,,,