Wednesday, July 27, 2016

Metode Sampling Biotik Untuk Menduga Populasi Hewan Bergerak



BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
            Satu organisme dikenal sebagai individu  dan populasi merupakan sekumpulan organisme sejenis yang berinteraksi pada tempat dan waktu yang sama. Jumlah individu sejenis yang terdapat pada satuan luas tertentu dinamakan kepadatan populasi. Antara populasi yang satu dengan populasi yang lain selalu terjadi interaksi, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam suatu komunitas. Bertambahanya anggota populasi menyebabkan kepadatan bertambah, sehingga antar individu arus bersaing untuk mencukupi kebutuhannya (Ferial, 2013).
            Hewan-hewan dalam suatu komunitas tidak terlalu mudah diambil sampelnya seperti tanaman karena mobilitas dan keragamannya. Diantara komunitas tumbuhan, kehidupan hewan memperlihatkan stratifikasi, namun stratifikasi ini tidaklah kaku. Hewan-hewan berpindah dari satu tingkat ke tingkat lannya dalam pencarian makanan atau karena perubahan dalam faktor-faktor abiotik lingkungan (Michael, 1999).
            Komunitas hewan berbeda dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya, dan memerlukan berbagai tata cara dan peralatan untuk menelitinya. Tata cara umum disebutkan disini. Ini dapat dimodifikasi seperlunya untuk studi jenis-jenis komunitas yang berbeda. Ini penting, tidak hanya mengamati dan mencatat jenis, namun juga lokasi dan jumlah hewan yang ada. Keterangan seperti ini penting untuk menentukan kepentingan relatif setiap kelompok hewan dalam komunitas, dan hubungan-hubungan yang ada (Michael, 1999).
I.2 Tujuan Percobaan
            Tujuan dari praktikum ini adalah sebgai berikut:
a.    Untuk menduga/mengetahui populasi dari suatu arela dengan menggunakan metode Lincoln-Peterson dan metode Zippin.
b.    Melatih keterampilan mahasiswa dalam menerapkan teknik-teknik sampling organisme dan rumus-rumus sederhana dalam analisis populasi.

I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
            Percobaan ini dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis, 10 dan 11 April 2013 pada pukul 06.00 – 07.30 WITA bertempat di Danau Unhas. Adapun percobaan di Laboratorium dilaksanakan pada hari Kamis, 11 April 2013 pada pukul 14.00-17.00 WITA bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
            Populasi merupakan suatu kelompok individu dari spesies yang sama yang menempati suatu tempat dan waktu tertentu, yang dapat berbiak silang dengan sesamanya dan menghasilkan keturunan yang fertil di alam. Istilah kepadatan akan dipakai bila yang diukur jumlah individu hewan, sedangkan istilah kerapatan dipakai bila yang diukur jumlah individu tumbuhan. Kelimpahan populasi merupakan besaran yang menyatakan jumlah individu spesies yang menempati suatu daerah tertentu. Kepadata populasi merupakan besaran yang menyatakan banyaknya individu dalam populasi yang dihubungkn dengan satuan ruang atau tempat dalam waktu tertentu. Ukuran dapat dinyatakan dalam jumlah individu persatuan luas, volume, ukuran berat atau pun biomassa (basah atau kering). Kepadatan relatif merupakan proporsi antara jumlah total individu populasi atau spesies per total individu semua spesies dalam suatu tempat (Umar, 2013).
            Umumnya, ada tiga cara dasar dapat digunakan dalam perkiraan jumlah dan biomassa hewan bergerak, yaitu Pengambilan sampel dengan pemindahan (Pengambilan sampel relatif) dengan penjeratan dan pengumpulan, Hitungan total dari kuadrat (pengambilan sampel mutlak), tata kerja penandaan dan penangkapan kembali (Michael, 1999).
            Salah satu hal yang menakjubkan dalam penelitian ialah kenyataan bahwa kita dapat menduga sifat-sifat suatu kumpulan objek penelitian hanya dengan mempelajari dan mengamati sebagian dart kumpulan itu. Bagian yang diamati itu disebut sampel, sedangkan kumpulan objek penelitian disebut populasi. Objek penelitian dapat berupa orang, umpi, organisasi, kelompok, lembaga, buku, kata-kata, surat kabar dan lainlain. Dalam penelitian, objek penelitian ini disebut satuan analisis (units of analysis) atau unsur-unsur populasi (Anonim, 2013).
            Pemindahan untuk pengambilan sampel dengan jerat pengumpulan (Pengambilan sampel relatif) Prinsip yang mendasari cara ini adalah bahwa jumlah hewan yang terambil yang diketahui pada setiap saat mempengaruhi penangkapan berikutnya, dan laju tatkala penagkapan luput akan berbanding langsung dengan ukuran populasi total. Pada saat menerapkan cara ini, haruslah cermat untuk memastikan cara pengankapan tidak lebih menaikkan atau menurunkan kemungkinan seekor hewan terkumpul (Michael, 1999).
            Pengumpulan dengan jaring vegetasi, jarring-jaring penyapu umumnya digunakan untuk mengambil sampel serangga vegetasi. Ini adalah cara yang sederhana dan cepat untuk pengambilan sampel. Kekuranganya adalah bahwa hanya serangga-serangga yang tidak terjatuh atau kabur pada saat si pengumpul mendekati vegetasi, yang dapat ditangkap. Jaring-jaring penyapu adalah jaring-jaring untuk serangga yang lincah, yang biasaya terbuat dari bahan katun yang tebal, Mulutnya umumnya bulat, namun mulut yang berbentuk huruf  berbentuk huruf-D (sekitar 30 cm) adalah ideal untuk digunakan dalam tanah ladang, atau di atas vegetasi yang rendah (Michael, 1999).
            Botol pembunuh digunakan untuk membunuh hama serangga yang tertangkap sebelum diproses lebih lanjut. Botol pembunuh ini terbuat dari gelas ataupun plastik yang memiliki tutup yang rapat dan memiliki mulut yang lebar. Pada dasar botol diberi cairan pembunuh seperti ether atau chloroform. Di antara cairan pembunuh dengan ruang pembunuh diberikan pembatas berupa saringan (seperti saringan pada penanak nasi) dan kapas  (Pribadi dan Illa, 2010).
            Bila jumlah unsur populasi itu terlalu banyak, padahal kita ingin sekali
menghemat biaya dan waktu,  kita harus puas dengan sampel. Karakteristik sampel disebut statistik. Kita sebetulnya tidak tertarik pada statistik. Kita ingin menduga secara cermat parameter dart statistik. Metode pendugaan inilah yang dikenal sebagai teori sampling. Ini berarti sampel harus mencerminkan semua unsur dalam populasi secara proporsional. Sampel seperti itu dikatakan sampel tak bias (unibased sample) atau sampel yang representatif. Sebaliknya sampel bias adalah sampel yang tidak memberikan kesempatan yang sama pada semua unsur populasi untuk dipilih (Anonim, 2013).
            Cara Ideal  untuk memperkirakan ukuran populasi apa pun adalah membuat suatu hitungan total individu. Bila ini mungkin dalam studi populasi tanaman, namun tidak mungkin dalam populasi hewan. Pergerakan hewan dapat menyebbkan hewan yang sama terhitung dua kali. Banyak diantaranya memiliki perilaku sekretif dan akan sukar untuk dilacak. Bilamana sampel suatu populasi diperoleh, adalah mungkin untuk membuat perhitungan, pengukuran, atau pemerian yang tepat mengenai populasi itu. Maksud pengambilan sampel adalah mengukur sifat populasi total melalui sifat bagian kecil dari populasi. Dengan demikian , jenis pengambilan sampel yang dibuat menjadi penting dalam analisis populasi (Michael, 1999).
            Metode Capture-Recapture (Tangkap-tandai-lepas-tangkap kembali-lepas) merupakan metode yang sudah popular digunakan untuk menduga ukuran populasi dari suatu  spesies   hewan yang bergerak cepat seperti ikan, burung, atau mamalia kecil. Adapun metode capture-recapture yang biasa digunakan antara lain Metode Lincoln-Peterson (Umar, 2013).
            Serangga, seperti kupu-kupu  dapat ditandai dengan mengusap sisik-sisik daerah yang kecil pada permukaan atas sayap dengan sebelah kanan dan meletakkan label kecil pada daerah ini. Label harus dipotong dari kertas tipis sedimikian sehingga tidak mempengaruhi daya terbang serangga. Kutu busuk dan serangga-serangga kecil yang hampir sama dapat ditandai dengan setitik kecil cat minyak (Michael, 1999).
            Metode removal sampling tanpa pengembalian, metode ini merupakan metode pendugaan yang dilakukan tanpa melepaskan kembali hewan  yang telah
disampling. metode ini diantaranya adalah, Metode Zippin. Prosedur pendugaan ukuran populasi metode ini membutuhkan lebih sedikit periode sampling daripaa metode Hayne. Metode pendugaan zippin dapat dilakukan dengan cara, pada penangkpan pertama sejumlah hewan tidak dilepaskan kembali (n1), kemudian dalam jangka waktu tertentu dilakukan kembali penagkpan kedua dan juga hewan tidak dilepaskan kembali (n2). Sehingga dengan menggunakan persamaan zippin dapat diduga populasi hewan dalam suatu areal (Umar, 2013).
            Memang, sampel mungkin menunjukkan karakteristik yang menyimpang dari karakteristik populasi. Penyimpangan dari karakteristik populasi disebut galat sampling (sampling error). Jadi, galat sampling adalah perbedaan antara hasil yang diperoleh dari sampel dengan hasil yang didapat dari sensus (Neter, Wasserman, Whitmore, 1979: 195). Statistik dapat membantu kita menentukan sampling error hanya bila kita menggunakan sampel tak bias. Sampel tak bias adalah sampel yang ditarik berdasarkan probabilitas (probability sampling). Dalam sampel probabilitas, setiap unsur populasi mempunyai nilai kemungkinan tertentu untuk dipilih. Karena sampel ini mengasumsikan kerandoman (randomness), maka sampel probabilitas lazim juga disebut sebagai sampel random. Bila kita mengambil sampel tertentu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, kita memperoleh sampel pertimbangan (judgemental sampling), disebut juga sampel non-probabilitas. Untuk kedua jenis sampling ini, ada beberapa alternatif teknik penelitian sampel. Teknik penarikan sampel sering disebut rencana sampling atau rancangan sampling (sampling design) (Anonim, 2013).
           

BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1     Alat
            Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah Botol ukuran 600 ml dan  sweeping Net (jaring serangga).

III.2     Bahan

            Bahan yang digunakan pada percobaan ini antara lain Serangga, tinta cina, dan alkohol 70%.

III.3    Cara Kerja
Cara kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut  :
a.    Memilih lokasi yang akan diamati ,kemudian menangkap serangga   menggunakan  jaring serangga (sweeping net).
b.    Melakukan penangkapan beberapa kali kemudian hasil tangkapan diberi tanda pada bagian tubuh tertentu yang kemudian dilepaskan kembali.
c.    Melakukan penangkapan pada hari kedua di tempat yang sama, hitung jumlah serangga yang di dapat dan carilah serangga yang memiliki tanda.
d.   Memeriksa atau Menghitung  jumlah hewan yang bertanda yang tertangkap dalam penangkapan kedua.
e.    Menghitung pendugaan populasi dengan menggunakan metode Lincoln – Peterson dan metode Zippin.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2013. Teknik Penarikan Sampel.http://www.uns.ac.id/data/0019a.pdf. Diakses pada tanggal      11  April 2013, Pukul 21.23 WITA, Makassar.

Ferial, Eddyman W., 2013. Pengetahuan Lingkungan. Jurusan Biologi. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Michael, P., 1999. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang Dan Laboratorium. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Pribadi, Avry dan Illa Anggraeni (2010). “Mitra Hutan Tanaman” Teknik Koleksi   Dan Identifikasi Serangga Haa Pada Tanaman Hutan.Vol.5 No 3,    Nopember 2010, hal: 99 - 110.

Umar, Muhammad Ruslan, 2013. Modul Bahan Ajar Ekologi Umum. Jurusan Biologi. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Umar, Muhammad Ruslan, 2013. Ekologi Umum Dalam Praktikum. Jurusan          Biologi. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Laporan Lengkapnya dapat diunduh disini


Indeks Keanekaragaman Serangga Di Padang Rumput



BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
            Secara umum dapat dapat dikatakan bahwa untuk menetukan indeks keanekaragaman suatu komunitas, sangat diperlukan pengetahuan/keterampilan dalam mengidentifikasi hewan. Pada dasarnya, jumlah hewan yang berbeda di daerah tropis jauh lebih baik banyak bila dibandingkan dengan daerah temperatur dan daerah beriklim dingin. Bagi seseorang yang sudah terbiasa pun, melakukan identifikasi hewan sering membutuhkan waktu yang lama, apalagi bagi yang belum terbiasa (Umar, 2013).
            Pada penelitian keanekaragaman hayati ini menampilkan daftar jenis dan informasi lainnya, misalnya jumlah individu, fungsi, dan habitat tempat hidupnya. Dipilih cara mengukur keanekaragaman dengan menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon (Indeks Keanekaragaman Shannon- Wienner) memakai jumlah jenis, kelimpahan atau jumlah individu setiap jenis, dan menggabungkan keduanya. Nilai keanekaragaman bervariasi, semakin tinggi nilainya berarti keanekaragaman jenis semakin tinggi. Sebaran keanekaragaman (evenness) merupakan perbandingan antara nilai keanekaragaman yang diperoleh dengan nilai keanekaragaman maksimum (Erawati dan Sih, 2010).
          Beberapa tujuan yang praktis, ada suatu cara penentuan untuk menduga indeks keanekaragaman suatu habitat / komunitas, tanpa harus mengetahui nama masing-masing jenis hewan dan kelompok hewan. Kemampuan yang diperlukan hanya menyatakan, apakah kedua jenis hewan sama atau tidak / berbeda. Metode itu dikemukakan oleh Kennedy (1977) (Umar, 2013).
I.2 Tujuan Percobaan
            Tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
a.    Menentukan indeks keanekaragaman serangga yang terdapat di padang rumput dengan menggunakan indeks kennedy.
b.    Melatih keterampilan mahasiswa dalam menerapkan teknik-teknik sampling organisme dan rumus-rumus sederhana dan cepat dalam memprediksi keadaan suatu komunitas.

I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
            Percobaan ini dilaksanakan pada hari Kamis, Tanggal 11 April 2013, pengambilan sampel dilaksanakan pada pukul 06.00 - 08.00 WITA, Bertempat di Danau Universitas Hasanuddin, Makassar. Percobaan yang dilakukan didalam Laboratorium dilaksanakan pada Pukul 14.30 - 17.00 WITA. Bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.
           



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
            Keanekaragaman hayati merupakan kekayaan hidup organisme dibumi, berupa tumbuhan, hewan, mikroorganisme, dan genetika yang dikandungnya, serta ekosistem yang dibangunya menjadi lingkungan hidup. Jadi keanekaragaman hayati harus dillihat dari tiga tingkatan yaitu tingkatan variasi genetik, variasi spesies, dann variasi habitat atau ekosistem (Umar, 2013).
            Indeks keragaman jenis merupakan parameter yang sangat banyak digunakan  untuk membandingkan data komunitas tumbuhan dan hewan terutama untuk mempelajari pengaruh dari gangguan faktor biotik atau untuk mengetahui  tingkat tahapan suksesi yang dan kestabilan dari komunitas tersebut. Keragaman jenis dihitung dengan menggunakan indeks keragaman  jenis yang merupakan perbandingan antara jumlah dari jenis dan nilai penting untuk jumlah atau biomassa atau produktivitas dari individu (Usman, 2010).
            Komunitas yang mengalami situasi lingkungan yang keras dan tidak menyenangkan di mana kondisi fisik terus-menerus menderita, kadangkala atau secara berkala, cenderung terdiri atas sejumlah kecil spesies yang berlimpah. Dalam lingkungan yang lunak atau menyenangkan, jumlah spesies besar, namun tidak ada satu pun yang berlimpah. Keragaman spesies dapat diambil untuk menandai jumlah spesies dalam suatu daerah tertentu atau sejumlah spesies yang ada. Hubungan ini dapat dinyatakan secara numeric sebagai indeks keragaman. Jumlah spesies dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologi karena keragaman spesies tampaknya bertambah bila komunitas menjadi makin stabil. Gsngguan parah menyebabkan penurunan yang nyata dalam keragaman. Keragaman yang besar juga mencirikan ketersediaan sejumlah besar ceruk (Michael, 1999).
            Salah satu alasan mengapa serangga memiliki keanekaragaman dan kelimpahan yang tinggi adalah kemampuan reproduksinya yang tinggi, serangga bereproduksi dalam jumlah yang sangat besar, dan pada beberapa spesies bahkan mampu menghasilkan beberapa generasi dalam satu tahun (Febriawan, 2012).
            Tidak ada individu dalam suatu populasi yang persisi sama.  Perbedaan  morfologis di antara individi-individu Dri populasi yang sama disebabkan oleh rias genetiknya maupun oelh keragaman dalam berbagai faktor lingkungan. Sifat dan tingkat kkeragaman ini mencirikan fenotip dari keseluruhan populasi. Karena individu-individu suatu populasi saling membiak secara bebas di antara mereka sendiri, mereka memakai bersama kutub genetik yang sama memiliki sejumlah gen yang umum. Ini menghasilkan kemiripan yang besar dibandingkan keragaman. Meskipun habitat mikro yang dihuni oleh anggota-anggota suatu populai berbeda satu sama lain, dalam daerah tertentu mereka mirip. Dengan demikian, keragaman yang dihasilkan dalam morfologi mereka berkisar pada kenampakan utama yang umum. Sifat dan tingkat keragaman adalah khas untuk suatu ineraksi populasi-habitat. Keragaman yang demikian tidak hanya dicerminkan dalam morfologi individu-individu, namun juga dalam fisiologi garis besar, alur-alur metabolic, komposisi biokimia, dan perilaku (Michael, 1999).
            Makin besar jumlah jenis, makin besar pula keanekaan hayati. Melalui evolusi yang terus-menerus terjadi pula kepunahan. Bila jenis baru terjadi lebih banyak dari kepunahan maka keanekaan hayati bertambah. Sebaliknya jika kepunahan terjadi lebih banyak dari terbentuknya jenis baru, maka keanekaan hayati akan menurun. Untuk pelestarian lingkungan keanekaan merupakan sumber daya alam hayati karena, merupakan bagian dari mata rantai tatanan lingkungan atau ekosistem, mampu merangkai satu unsur dengan unsur tatanan lingkungan yang lain, dan dapat menunjang tatanan lingkungan itu sehingga menjadikan lingkungan alam ini suatu llingkungan hidup yang amu memmberikan kebutuhan makhluk hidupnya (Ferial, 2013).
            Setiap tingkatan biologi sangat penting bagi kelangsungan hidup spesies dan komunitas alami, dan kesemuanya penting bagi manusia. Keanekaragaman spesies mewakili aneka ragam adaptasi evolusi dan ekologi suatu spesies pada lingkungan tertentu. Keragaman spesies menyediakan bagi manusia sumber daya alternatifnya; contohnya, hutan hujan tropik dengan aneka variasi spesies yang menggasilkan tumbuhan dan hewan yang dapat digunakan  untuk makanan, tempat bernaung dan obat-obatan (Umar, 2010).
            Jika tatanan lingkungan hanya terdiri dari sedikit jenis hayati, sangat peka dan mudah terganggu keseimbangannya. Semakin beraneka ragam sumber alam hayati, semakin stabil tatanan lingkungan tersebut. Jelasnya keanekaan hayati sangat penting, tidak hanya bagi kelangsungan hidup makhluknya, tetapi juga untuk kelestarian tatanan lingkungan itu sendiri. Dalam beberapa dekade terakhir abad ke-20, laju keanekaan hayati sebagai perkiraan kasar meliputi 40-400 kali juta kepunahan normal (Ferial, 2013).     
            Keanekaan ccenderung akan rendah dalam ekosistem-ekosistem yang secara fisik terkendali biologi. Sedikit jenis dengan jumlah yang besar, banyak jenis yang langka dengan jumlah yang kecil. Keanekaan jenis mempunyai sejumlah komponen yang dapat memberi reaksi secara berbeda-beda terhadap faktor geografi, perkembangan atau fisik. Keanekaan yang tinggi berarti mempunyai rantai-rantai makanan yang panjang dan lebih banyak kasus dari simbiosis (interaksi), kendali yang lebih besar untuk kendali umpan balik negatif yang dapat mengurangi gangguan-gangguan, dan karenanya akan meningkatkan kemantapan. Lebih banyak energi yang mengalir ke dalam keanekaan, biaya hara bebas ditanah  akan larut dalam air hujan dan kemudian diserap tumbuhan untuk perkembanganya. Hara yang diserap ini cepat atau lambat akan diberikan lagi kepada makhluk hidup lain. Sehingga dekomposisi  juga disebut sirkulasi hara (Ferial, 2013).
            Keanekaragaman hayati (biodiversity) sebagai kegiatan yang mengungkapkan jumlah jenis (kekayaan jenis atau species richness) yang ditemukan pada suatu komunitas/ekosistem dan bagaimana kemerataan jumlah individu yang tersebar di antara jenis tersebut (evenness) (Erawati dan Sih, 2010).
            Pengumpulan dengan jaring vegetasi,  jaring-jaring penyapu  umumnya  digunakan untuk mengambil sampel serangga vegetasi.  Ini adalah cara  yang  sederhana dan cepat untuk pengambilan sampel. Kekuranganya adalah bahwa hanya serangga-serangga yang tidak terjatuh atau kabur pada saat si pengumpul mendekati vegetasi, yang dapat ditangkap. Jaring-jaring penyapu adalah jaring-jaring untuk serangga yang lincah, yang biasaya terbuat dari bahan katun yang tebal, Mulutnya umumnya bulat, namun mulut yang berbentuk huruf  berbentuk huruf-D (sekitar 30 cm) adalah ideal untuk digunakan dalam tanah ladang, atau di atas vegetasi yang rendah (Michael, 1999).
            Botol pembunuh digunakan untuk membunuh hama serangga yang tertangkap sebelum diproses lebih lanjut. Botol pembunuh ini terbuat dari gelas ataupun plastik yang memiliki tutup yang rapat dan memiliki mulut yang lebar. Pada dasar botol diberi cairan pembunuh seperti ether atau chloroform. Di antara cairan pembunuh dengan ruang   pembunuh   diberikan  pembatas berupa saringan
 (seperti saringan pada penanak nasi) dan kapas  (Pribadi dan Illa, 2010).
           



BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat
            Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah  Botol ukuran 600 ml, pinset, botol pembunuh, dan sweeping net.

III.2 Bahan
            Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Alkohol 70% dan serangga yang telah mati.

III.3 Cara Kerja
III.3.1 Cara Pengambilan Sampel
            Adapun cara kerja dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut:
a.    Memilih tempat/lokasi di padang rumput yang di sekitar Danau Unhas, Kemudian melakukan penagkapan serangga dengan menggunakan jarring serangga (sweeping net).
b.    Mengayunkan sweeping net ke kiri dan ke kanan di permukaan padang rumput dengan melangkah sebanyak 20 kali (10 langkah maju dan 10 langkah kembali). Mengulangi penangkapan sebanyak 2 kali pada lokasi yang berbeda.
c.    Menggulung jaring sweeping net agar serangga tidak lepas, kemudian masukkan kedalam botol pembunuh yang berisi alkohol secukupnya dan membiarkannya sampai serangga mati.

III.3.2 Cara Kerja Di Laboratorium
            Adapun cara kerja  yang  di  laksanakan  di  Laboratorium  adalah  sebagai
berikut:
a.    Di Laboratorium, melakukan pengamatan dan perhitungan.
b.    Mengambil serangga yang telah mati satu per satu secara acak, kemudian meletakkannya pada tempat yang telah disediakan.
c.    mengamati serangga no.1, kemudian pada lembar kerja memberi tanda +, mengambil serangga no.2 dan meletakkannya brdampingan dengan serangga no. 1 dan mengamatinya. Jika serangga no.2 berbeda dengan no.1 memberi tanda + pada lembar kerja , tetapi appabila sama, maka membri tanda 0 pada lembar kerja. Melakukan percobaan diatas dengan sampel pada lokasi berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Erawati, Nety V., dan Sih Kahono, (2010). “J. Entomol. Indon” Keanekaragaman  Dan Kelimpahan Belalang Dan Kerabatnya (Orthoptera) Pada Ekosistem  Pegunungan Di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. September   2010, Vol. 7, No. 2. Hal: 100-115.

Febriawan, Anggara, 2012. Tinjauan Umum Serangga Tanah, Keanekaragaman   Kelimpahan Dan Penelitian Yang Relevan. Universitas Pendidikan   Indonesia, Bandung.

Ferial, Eddyman W., 2013. Pengetahuan Lingkungan. Jurusan Biologi. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Michael, P., 1999. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang Dan Laboratorium. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Pribadi, Avry dan Illa Anggraeni, (2010). “Mitra Hutan Tanaman” Teknik Koleksi Dan Identifikasi Serangga Haa Pada Tanaman Hutan.Vol.5 No 3,    Nopember 2010, hal: 99 - 110.

Umar, Muhammad Ruslan, 2013. Modul Bahan Ajar Ekologi Umum. Jurusan  Biologi. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Umar, Muhammad Ruslan, 2013. Ekologi Umum Dalam Praktikum. Jurusan Biologi. Universitas Hasanuddin, Makassar.


 Laporan lengkapnya dapat diunduh disini

           

Tuesday, July 26, 2016

Sebuah Kisah Tentang Arti Perjuangan

"Sebenarnya kisah ini sudah lama terjadi, tepatnya di awal tahun 2016 kemarin. Sebuah perjuangan yang jika dilihat belum ada apa-apanya, namun memiliki hikmah pelajaran yang bisa didapatkan"

     Siang itu keadaan di dalam rumah begitu panas, maklum saja beberapa hari ini cuaca di Kota Makassar masih saja tidak menentu, kadang-kadang hujan, kadang-kadang panas. Jika cuaca panasnya datang, masya Allah betapa panasnya jika berada di dalam ruangan sehingga hari itu saya memutuskan untuk duduk di depan pintu rumah saja sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan yang lewat sambil sesekali melihat notifikasi sosmed di Smartphone saya. Buku yang berjudul “Dari gerobak jadi alphard” yang menjadi buku bacaan saya hingga hari yang panas ini masih berada dalam pangkuan dari saat pembelianya beberapa hari kemarin. Buku itu sudah menjadi buku bacaan kedua saya tentang perjuangan seseorang dalam mencari jati diri dan bagaimana perjuangan mereka dalam menghadapi kerasnya alam semesta ini. Akhir-akhir ini semangat saya kian menurun dan motivasi saya untuk rencana kedepan mulai pudar selepas seminar hasil penelitian dan disibukkan dengan revisi skripsi dari dosen penguji serta kesibukkan dalam persiapan ujian sidang. Saya ingin membakar semangat saya lagi seperti cuaca saat itu yang lagi bergejolak serta mengukir kembali motivasi saya untuk melakukan berbagai hal kedepanya seperti dalam buku “Melampaui mimpi”. Mungkin, ah....bukan tetapi pasti dengan membaca beberapa kisah pejuangan orang, saya akan banyak mengambil pelajaran dari mereka yang tidak pernah berkata “mungkin” tetapi “pasti” dalam kamus mereka.
 
       Beberapa hari ini saya masih kurang motivasi untuk melangkah maju. “Setelah ujian sidang mau kemana? kalau sudah wisuda mau kemana? mau lanjut studi atau langsung kerja? mau merantau kemana nanti?”. Banyak pertanyaan muncul dikepala saya dan saya belum mampu menjawabnya. Kalau biasanya saya menuliskan target apa selanjutnya yang akan saya lakukan selanjutnya dalam buku catatan kecil, tetapi saat ini buku cataan saya hampir penuh dan saya enggan untuk menggantinya yang baru. Saya kembali membuka catatan kecil saya untuk melihat hal-hal yang belum dilakukan dalam minggu ini, semuanya masih seputar skripsi. Masih banyak list yang belum dikerjakan. Lagi-lagi karena permasalahan motivasi. 
       Sesaat saya tersadar kembali dari perdebatan yang ada di dalam diri ini. Pandangan saya tertuju dengan sekelompok orang, 2 pria dan 2 wanita yang kelihatanya bingung datang menghampiri saya dan membuat saya terkejut. 
“Permisi, apakah kakak sendiri di rumah” Tanya salah satu pria besar, “iya, maaf ada yang bisa saya bantu” jawab saya dengan tatapan saya curiga dari keempat orang yang berpakaian rapi dengan kemeja batik yang dikenakan dan membawa tas ransel hitam, mungkin mereka mau menjual produk kepada saya. Ah saya paling malas jika harus menghadapi hal ini. “kami mohon izin untuk istirahat sebentar sebelum melanjutkan kembali perjalanan kami” pinta pria bertubuh besar itu. “mohon izinkan kami untuk istirahat sejenak” lanjut salah satu teman wanitanya. Wajah saya melongo, saya terkejut bukanya mereka menawarkan produk eh malah minta izin utnuk istirahat di rumah. Saya masih tambah tidak percaya, tiba-tiba pikiran saya langsung ke arah yang tidak-tidak, mulai dari kasus pencurian dan penipuan, hipnotis dan minta tolong untuk istirahat di rumah korbanya dengan modus menawarkan jasa, seperti kejadian yang ada di pemberitaan media saat itu melintas di