Thursday, July 28, 2016

Korelasi hubungan antara panjang dan berat



BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
                Manusia hidup tidaklah secara permanen, melainkan terus berubah-ubah. Mulai dari pembuahan, menjadi janin, bayi, lahir, dewasa, dan akhirnya mati. Saat bayi lahir, belum memiliki kemampuan apapun kecuali menangis. Dengan cara berinteraksi secara terus-menerus dengan lingkungan sekitar, bayi akan lebih menyempurnakan diri, hingga bayi tersebut mengalami perubahan fisik sampai menjadi lebih seimbang. Seiring berjalannya waktu, bayi tersebut terus mengalami perubahan. Perilaku dan keterampilannya juga semakin berkembang. Bayi tersebut mulai bisa melakukan hal-hal tertentu, seperti membalikan badan, duduk, merangkak, berdiri dan akhirnya bisa berjalan dan berlari (Waphalim, 2012).
            Setiap organisme dialam akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Perkembangan meliputi 3 proses yaitu morfognesis, diferensiasi dan pertumbuhan, sedangkan pertumbuhan itu sendiri merupakan peningkatan ukuran organisme sebagai akibat dari pertambahan (pembelahan) jumlah sel, volume, ukuran dan banyaknya matriks intraselluler selnya. Akibat dari pertumbuhan adalah terjadinya pertambahan panjang, lebar diameter dan dengan secara pasti akan diikuti pertambahan berat orgnisme (Umar, 2013).
            Dengan adanya percobaan ini, akan dibuktikan apakah ada hubungan antara pertumbuhan dan perkembangan, khususnya pada biji rambutan Nephelium lappaceum L.


I.2 Tujuan Percobaan
            Tujuan dari percobaan ini yaitu:
a.         Untuk mengetahui apakah ada hubungan korelasi antara anjang dengan penambahan berat dari suatu sampel yang diukur.
b.         Mengenalkan dan melatih mahasiswa dalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan parameter fisik dalam lingkungan.

I.3 Waktu Percobaan
            Percobaan ini dilaksanakan pada hari Kamis, 21 Maret 2013, Pada pukul 14.30-17.00 WITA, Bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Perkembangan (development) adalah proses atau tahapan pertumbuhan ke arah yang lebih maju. Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya Psikologi Perkembangan (1980), mengartikan Perkembangan adalah serangkaiaan perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman . Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), ini berarti mekar terbuka atau membentang; menjadi besar, luas, dan banyak, serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya Pertumbuhan sendiri (growth) berarti tahapan peningkatan sesuatu dalam hal jumlah, ukuran, dan arti pentingnya. Pertumbuhan juga dapat berarti sebuah tahapan perkembangan (a stage of development) (Waphalim,2012).
            Biomassa tanaman merupakan ukuran yang paling sering digunakan untuk menggambarkan dan mempelajari pertumbuhan tanaman. Ini didasarkan atas kenyataan bahwa taksiran biomassa (berat) tanaman relatif mudah diukur dan merupakan integrasi dari hampir semua peristiwa yang dialami tanaman sebelumnya. Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indicator pertumbuhan maupun parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan atas perlakuan yang diterapkan (Sitompul dan Guritno,1995).
            Sebagai contoh proses yang terjadi pada sebuah tanaman buah tanaman buah dari bibit pohon yang kecil menjadi besar dengan pohon rindang, daun lebat, dan daun yang ranum. Dalam proses tersebut menunjukkan kedua proses pertumbuhan dan perkembangan. Karena dalam pertumbuhan tinggi dan bertambahnya volume pohon, terdapat juga proses perkembangan yaitu berupa perubahan sel-sel didalam pohoon menuju tahap lebih dewasa sehingga akhirnya mampu menghasilkan buah. Jadi perbedaan pertumbuhan dan perkembangan terletak pada proses yang dialami oleh makhluk hidup tersebut dan proses antara pertumbuhan dengan perkembangan berjalan secara beriringan dan tidak terpisahkan satu sama lain. Sehingga pertumbuhan dapat diukur secara kuantitatif sedangkan perkembangan dapat diukur dengan cara kualitatif (Anonim, 2012).
            Pertumbuhan berfungsi sebagai tombol yang mengendalikan tingkat sintesis substrat menjadi biomassa tanaman. Apabila efesiensi “konversi substrat” (pertumbuhan) rendah, maka produk biomassa tanaman akan sedikit dan akhirnya hasil tanaman akan rendah. Pembentukan awal organ-organ ini dengan demikian tergantung kepada cadangan karbohidrat dan unsur hara dalam biji serta efesiensi metabolism. Tanaman kemudian tumbuh dan berkembang mengikuti program ontogeny dimana aktivitas dari proses-proses yang mendukung pertumbuhan disinkronisasi sedemikian rupa dengan membentuk biomassa tanaman maksimal sesuai dengan kondisi lingkungan (Sitompul dan Guritno, 1995).
            Pada dasarnya pertumbuhan manusia itu berbeda satu dengan yang lainnya karena mereka memiliki perbedaan genetik dan asupan dari masing-masing manusia. Sehingga bisa dikatakan bahwa faktor dari pertumbuhan manusia itu sendiri merupakan hal penting dalam perkembangan manusia (Waphalim, 2012) Faktor-faktornya adalah :
1. Faktor Genetik (Keturunan)
            Faktor ini merupakan factor utama yang dimiliki oleh seorang manusia dalam awal pertumbuhannya. Faktor ini sangat berpengaruh dalam proses pertumbuhannya dari bayi sampai dewasa. Biasanya factor genetik ini susah untuk diubah, karena sudah terbentuk dan melekat pada si manusia sejak mereka lahir. Dan sekalipun bisa diubah itu memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengubahnya. Contoh faktor-faktor genetik manusia ; postur tubuh, warna rambut, warna kulit, sifat, tempramen dan lain-lain.
2. Faktor Asupan
            Faktor ini juga mempengaruhi dalam proses pertumbuhan manusia. Dengan pemberian asupan seperti makanan, vitamin, buah-buahah, sayuran,dll secara teratur dalam proses pertumbuhannya maka akan terbentuklah manusia yang sehat, baik sehat fisik dan sehat psikis. Asupan juga berpengaruh dengan cara berfikir, pertumbuhan badan, dan lain-lain.
3. Faktor Lingkungan
            Setelah kedua faktor diatas telah dilewati segeralah anda mengetahui factor yang satu ini, factor lingkungan merupakan cara pembelajaran para manusia dalam pembangunan karakter secara alamiah dengan kata lain proses belajarnya secara otomatis. Maka dengan itu lingkungan berpengaruh dalam pembangunan sifat dan karakter mereka. Perkembangan anak tidak berlangsung secara makanis-otomatis sebab perkembangan terjadi sangat bergantung pada beberapa faktor secara simultan (Waphalim, 2012) Faktor tersebut antara lain :
1. Faktor hereditas (warisan sejak lahir/ bawaan)
            Hereditas merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan individu. Dalam hal ini hereditas diartikan sebagai totalitas karakteristik individu yang diwariskan orangtua kepada anak, atau segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi (pembuahan ovum oleh sperma) sebagai pewarisan dari pihak orangtua melalui gen-gen.
2. Faktor lingkungan
            Urie Bronfrenbrenner & Ann Crouter mengemukakan bahwa lingkungan perkembangan merupakan “berbagai peristiwa, situasi atau kondisi di luar organism yang diduga mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perkembangan individu”.
            Suatu koefesien korelasi adalah sebuah angka yang menyatakan sampai seberapa jauh dua hal berhubungan dan seberapa jauh variasi-variasi dalam sebuah pengukuran searah dengan variasi-variasi lain. Agar setiap korelasi berarti, setiap variabel dalam pasangan harus mengikuti sebuah distribusi normal. Sebagai contoh, koefesien korelasi yang dihitung dari berta ikan muda dan sangat tua akan tidak berlaku. Sementara itu adalah benar bahwa umur dan berat ikan memiliki hubungan kuat, ikan meningkat dlam berat saat dia tumbuh, dalam contoh ini umur ikan tidak akan mengikuti sebuah disrtibusi normaljika hanya ekstrim-ekstrim yang dipertimbangkan. Hal itu harus diingat bahwa koefesien korelasi semata-mata menunjukkan keberadaan dan ketidakberadaan sebuah hubungan, apakah positif atau negative, antara dua variabel (Michael, 1999).
            Dalam suatu penelitian, sampel yang dikumpulkan harus data yang benar, dan cara pengumpulan (sampling) data tersebut harus dilakukan dengan benar dan mengikuti metode dan tata cara yang benar sehingga kesimpulan hasil penelitian yang dapat dipercaya. Prosedur pengambilan sampel yang menghasilkan kesimpulan terhadap populasi yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dikatakan berbias. Untuk menghilangkan kemungkinan bias ini maka sampel harus diambil berdasarkan  prosedur khusus khusus (Spesific procedures) (Soewarno, 1991).

Laporan lengkapnya dapat diunduh disini

No comments:

Post a Comment

Semoga bermanfaat...Silahkan komentarnya,,,